Memulihkan Listrik, Memulihkan Kehidupan Pascabencana Sumatra
Oleh: Ahmad Syahrial *)
Pemulihan listrik pascabencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra bukan sekadarurusan teknis, melainkan merupakan tulang punggung pemulihan kehidupan sosialdan ekonomi masyarakat. Ketika bencana menghantam akhir November 2025, hamparan infrastruktur listrik di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat runtuhbersama tanah dan arus air. Keberhasilan pemerintah dan PT PLN (Persero) dalammenghidupkan kembali jaringan kelistrikan kini menjadi penanda penting bahwanegara hadir dengan strategi pemulihan yang terukur, cepat, dan berpihak pada masyarakat terdampak.
Upaya pemulihan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyalaan kembalilistrik. Secara administratif, PT PLN bersama pemerintah daerah dan pusatmenempatkan prioritas pada keselamatan, kecepatan, dan kesinambungan pasokanlistrik. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa hinggapertengahan Januari 2026, sebanyak 98,9 persen desa di Provinsi Aceh telahmenikmati aliran listrik kembali setelah jaringan utama pulih, sementara sisanyamasih dalam proses normalisasi di lokasi-lokasi paling terpencil yang medan dan akses jalannya sangat menantang.
Capaian kemajuan ini mencerminkan koordinasi yang kuat antara PLN dan pemerintah pusat sebagai bagian dari respon negara terhadap keadaan darurat. Langkah cepat tersebut tentu bukan hanya sekadar menyambungkan kabel, tetapimenjaga kehidupan yang terhenti akibat kegelapan pascagempa alam itu. Di Sumatra Barat, misalnya, pemulihan sistem listrik berhasil 100 persen, termasuk di wilayah Agam yang sebelumnya menjadi salah satu titik paling parah terdampakbencana. Keberhasilan ini berkat kerja keras tim PLN di lapangan yang memasangratusan tiang jaringan dan sirkuit kabel baru di medan berat untuk memastikansuplai listrik dapat pulih.
Kondisi serupa juga terlihat di Sumatra Utara, di mana mayoritas desa telah kembalimenyala meski banjir susulan sempat memadamkan jaringan di dua desa di TapanuliUtara. Tingkat pemulihan mencapai hampir 100 persen, sebuah capaian signifikanmengingat tantangan logistik dan keselamatan teknis di lapangan. Pemulihan listriktelah menjadi fondasi penting bagi aktivitas layanan kesehatan, pendidikan, dan usaha mikro yang sebelumnya terhenti karena tidak ada arus listrik untuk menerangimalam hari atau menghidupkan mesin serta peralatan penting.
Pemerintah juga mengambil langkah-langkah untuk meringankan beban finansialkelistrikan bagi masyarakat terdampak. Pemerintah melalui PT PLN memberikanlistrik gratis selama enam bulan kepada hunian sementara (huntara) korban bencanadi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, termasuk pemasangan instalasi, kWh meter, penerangan jalan umum, dan fasilitas umum di sekitar huntara.
Langkah pemberian listrik gratis ini juga selaras dengan upaya mempercepatpemulihan kehidupan normal bagi masyarakat yang kehilangan rumah atau terpaksaberpindah ke hunian sementara. Ini sekaligus mencerminkan bahwa kebijakannegara tidak hanya ingin menyalakan lampu, tetapi memastikan keluarga korban banjir dapat meneruskan kehidupan sehari-hari dengan akses energi yang stabil. Di saat yang sama, pemerintah tengah mempertimbangkan insentif lain, termasukdiskon tagihan listrik bagi pelanggan di wilayah terdampak bencana, sebagai bentukdukungan jangka menengah agar masyarakat tidak terbebani biaya energi ketikapemulihan ekonomi lokal masih berjalan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan agar seluruh jaringanlistrik di tiga provinsi tersebut dipulihkan tanpa kompromi dalam waktu secepatmungkin. Arahan ini menjadi imbauan tegas kepada kementerian dan lembagaterkait untuk menurunkan seluruh sumber daya teknis demi memastikan listrikkembali menyala di wilayah yang lumpuh total akibat bencana.
Namun, pemulihan ini bukan tanpa hambatan. Beberapa desa di Aceh yang masihbelum teraliri listrik berada di wilayah dengan medan paling berat dan akses jalanyang rusak parah akibat banjir serta longsor. Akses yang terputus ini memperlambatmobilisasi personel dan material. Meski demikian, komitmen pemerintah pusat dan PLN untuk menjangkau wilayah terpencil ini menunjukkan bahwa pemulihan listrik di kawasan terdampak bencana ditangani secara menyeluruh dan tak terputus oleh kendala geografis.
Belajar dari pengalaman Aceh dan Sumatra lainnya, Darmawan Prasodjomenyampaikan bahwa PLN mulai merancang skenario baru dalam meresponspemulihan jaringan pascabencana, sebuah pendekatan yang menggabungkankesiapsiagaan, teknik rekonstruksi cepat, dan koordinasi lintas sektor gunamenghadapi dampak perubahan iklim dan risiko hidrometeorologi di masa depan.
Dukungan politik dan kebijakan pemerintah dalam pemulihan kelistrikan ini juga telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah yang merasakan dampaknya langsung. Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullahmenilai langkah cepat PLN sangat membantu aktivitas masyarakat untuk kembaliberjalan normal setelah masa terkelam pascagempa dan banjir.
Ketika listrik kembali menyala, lampu-lampu rumah, klinik kesehatan, sekolah, warung, serta pabrik kecil kembali hidup. Keputusan negara untuk mengutamakanpemulihan listrik pascabencana adalah keputusan yang tidak hanya teknis tetapi etis, listrik berarti kehidupan, dan pemulihan listrik berarti memberi peluang masyarakatuntuk pulih dari trauma dan kerugian.
Agenda pemerintah bukan sekadar menyalakan kembali jaringan yang sempatpadam, tetapi memulihkan kehidupan. Konsistensi kebijakan ini menunjukkan bahwanegara memahami esensi energi dalam kehidupan modern dan tidak menyerah pada tantangan yang datang setelah bencana. Dukungan pemerintah terhadap pemulihanlistrik pascabencana Sumatra tidak hanya layak didukung, tetapi juga perludipertahankan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berpihak pada rakyat.
*) Analis Kebijakan Publik dan Infrastruktur Energi