CKG di Papua, Fondasi Kuat Membangun Papua Sehat dan Produktif
Oleh : Loa Murib
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah nasional semakinmenunjukkan perannya sebagai fondasi penting dalam membangun Papua yang sehat dan produktif. Di tengah tantangan geografis, keterbatasan akses layanan, serta beragampersoalan kesehatan yang masih dihadapi masyarakat Papua, kehadiran CKG menjadiinstrumen strategis negara untuk memastikan setiap warga memperoleh hak dasar ataslayanan kesehatan, sekaligus mendorong perubahan paradigma dari kuratif menuju preventif.
Pelaksanaan CKG di Papua Tengah menjadi contoh konkret komitmen pemerintah daerahdalam mengakselerasi agenda kesehatan nasional. Pemerintah Provinsi Papua Tengah melaluiDinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana secara aktifmelaksanakan program ini dengan memanfaatkan berbagai ruang publik. Plt Kepala DP2KB Papua Tengah, Dokter Agus, menegaskan bahwa CKG telah berjalan dan saat ini difokuskanpada pendataan cakupan seluruh penduduk melalui puskesmas dan pemerintah kabupaten. Menurutnya, proses pendataan tersebut penting agar intervensi kesehatan dapat dilakukansecara terukur dan berkelanjutan.
Upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat juga dilakukan melaluipendekatan yang adaptif dan inklusif. DP2KB Papua Tengah secara rutin membuka layananCKG dalam kegiatan Car Free Day di Nabire dengan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten dan puskesmas setempat. Dokter Agus memandang kehadiran layanan kesehatandi ruang publik tidak hanya memudahkan akses masyarakat, tetapi juga memperkuat interaksisosial serta menggerakkan aktivitas ekonomi lokal, khususnya UMKM. Sinergi antarakesehatan dan ekonomi ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak berdirisendiri, melainkan saling terkait dengan sektor lain dalam mendorong kesejahteraanmasyarakat.
Sementara itu, capaian CKG di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, memperlihatkandampak positif program ini dalam menjangkau kelompok usia strategis, yakni anak sekolah. Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari mencatat ribuan anak usia 7 hingga 18 tahun telahmemperoleh layanan CKG, atau sekitar 70 persen dari total sasaran. Plt Kepala Dinas Kesehatan Manokwari, Marthen Rantetampang, menyampaikan bahwa pemeriksaankesehatan sejak usia dini merupakan langkah krusial untuk mendeteksi potensi penyakit lebihawal dan memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal.
Pendekatan jemput bola menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan CKG di lingkungansekolah. Dinas Kesehatan Manokwari secara aktif berkoordinasi dengan pihak sekolah, di mana guru berperan menginformasikan jadwal kegiatan kepada puskesmas terdekat agar petugas kesehatan dapat langsung melakukan pemeriksaan. Pola ini tidak hanyameningkatkan cakupan layanan, tetapi juga menanamkan kesadaran kesehatan sejak dinikepada peserta didik, guru, dan orang tua.
Selain anak sekolah, CKG di Manokwari juga menyasar masyarakat umum melaluipelayanan di berbagai ruang publik, termasuk rumah ibadah dan lokasi keramaian. Marthen menilai strategi ini penting untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini jarangmengakses fasilitas kesehatan. Namun demikian, ia juga mengakui bahwa tantangan utamamasih terletak pada rendahnya kesadaran sebagian warga untuk memeriksakan kesehatan saatmerasa sehat. Pandangan bahwa fasilitas kesehatan hanya didatangi ketika sakit masih cukupkuat, sehingga perlu upaya edukasi yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, CKG sesungguhnya menjadi instrumen edukatif yang strategis. Program ini menegaskan bahwa deteksi dini penyakit adalah hak setiap warga negara dan merupakaninvestasi jangka panjang bagi kualitas hidup. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebihawal, potensi penyakit kronis dapat dicegah atau ditangani sejak dini, sehingga menekanbiaya pengobatan dan meningkatkan produktivitas masyarakat.
Meski demikian, pelaksanaan CKG di Papua juga menghadapi kendala struktural, terutamaterkait ketersediaan bahan medis habis pakai. Marthen mengungkapkan bahwa keterlambatandistribusi BMHP dari pemerintah pusat berdampak pada optimalisasi layanan di lapangan. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan koordinasi lintas level pemerintahan agar dukungan logistik sejalan dengan kesiapan tenaga kesehatan yang sudah ada.
Secara keseluruhan, CKG di Papua merepresentasikan wajah kehadiran negara yang semakinnyata dalam menjamin hak kesehatan warga. Program ini tidak hanya menyentuh aspekmedis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya hidup sehat sebagaiprasyarat pembangunan manusia. Papua yang sehat adalah Papua yang produktif, dan produktivitas masyarakat menjadi modal utama dalam mendorong kemajuan daerah secaraberkelanjutan.
Ke depan, keberhasilan CKG sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan, penguatansosialisasi, serta dukungan sarana prasarana yang memadai. Dengan sinergi antarapemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, CKG berpotensimenjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Papua yang lebih sehat, berdaya saing, dan sejahtera. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan kesehatan adalah investasistrategis untuk masa depan Papua dan Indonesia secara keseluruhan.
*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur