Tangan Dingin Mama Yonce: Menjaga Amanah Ayah, Keharuman Kopi Tangma, dan Lelang Senilai Rp6,5 Juta di Jogja Coffee Week

0

YOGYAKARTA — Di balik lanskap hijau Distrik Tangma, Kabupaten Yahukimo, aroma buah kopi merah menyebarkan cerita tentang keteguhan hati. Di sanalah Mama Yonce Yelemaken (40) menghabiskan sebagian besar waktunya—memangkas dahan, merawat tanah organik, dan memetik ceri kopi pilihan dengan ketelitian tinggi.

Perjuangan sunyi dari pedalaman Papua Pegunungan itu berbuah manis saat namanya diumumkan sebagai Juara 2 Green Beans pada Jogja Coffee Week 6 2026. Kopi Arabika Typica hasil olahan tangannya berhasil memikat tim juri penilai internasional dan para pembeli specialty coffee nasional.

Ketekunan Mama Yonce terbayar tuntas saat sesi lelang green beans. Biji kopi lot Papua Pegunungan Natural Klasik miliknya menjadi rebutan hingga akhirnya dimenangkan oleh Erwin dari MORS Roastery (`mors• Roastery`) senilai Rp6.500.000,- sebagai bentuk dukungan nyata bagi karya petani hulu Papua.

“Saya sudah ikut almarhum Bapak mengurus kopi sejak masih seragam SMA. Bagi saya, bertahan di kebun ini adalah cara saya menjaga amanah almarhum,” tutur Mama Yonce dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan kenangan bersama sang ayah yang pertama kali menanam kopi di Tangma pada tahun 1990-an.

Saat ketiga saudaranya memilih berkarier di sektor formal kantor, Mama Yonce memilih jalur sunyi sebagai petani dan prosesor kopi. Bersama sang ibu, ia mengolah 4 hingga 5 hektar kebun warisan keluarga tanpa bantuan alat-alat pengolahan modern.

“Menjadi petani kopi perempuan sekaligus prosesor dengan keterbatasan alat itu tidak mudah. Hampir semua pekerjaan harus dilakukan dengan tenaga sendiri. Tetapi ketika melihat karya kita dihargai hingga jutaan rupiah di panggung lelang oleh apresiasi kawan-kawan roaster seperti Mas Erwin, ada rasa bangga yang luar biasa,” ungkap Mama Yonce.

Melalui keikutsertaannya di Jogja Coffee Week, Mama Yonce membawa pesan harapan agar anak-anak muda Papua tidak malu kembali ke tanah mereka. “Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru ini menjadi kekuatan untuk membuktikan bahwa perempuan Papua bisa berdiri tegak dan mandiri dari kebun kopi,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *