Bencana Hidrometeorologi Diwaspadai, BMKG Ingatkan Risiko Banjir dan Longsor
Jakarta – Pemerintah memperkuat kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring prakiraan meningkatnya hujan lebat hingga ekstrem pada akhir 2026 dan awal 2027. Penguatan peringatan dini, kesiapan pemerintah daerah, dan koordinasi lintas instansi menjadi langkah penting untuk mengantisipasi banjir dan tanah longsor serta melindungi keselamatan masyarakat.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa musim hujan diperkirakan mulai memasuki sejumlah wilayah pada November hingga Desember 2026, dengan puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Meski curah hujan secara umum diprakirakan berada pada kisaran normal, periode musim hujan yang lebih pendek berpotensi membuat hujan lebat terjadi lebih sering pada waktu tertentu. Karena itu, kesiapsiagaan perlu dimulai sebelum puncak musim hujan tiba.
“Sehingga nanti akan terjadi hujan lebat, sangat lebat hingga hujan ekstrem lebih sering di akhir tahun hingga awal tahun depan. Sehingga bencana meteorologi basah, yaitu banjir, longsor, itu juga perlu kita antisipasi dari mulai sekarang,” kata Faisal.
BMKG terus mendorong pemanfaatan informasi cuaca dan peringatan dini sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah mitigasi. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, kawasan cekungan, dan lereng perbukitan perlu memperhatikan kondisi lingkungan serta mengikuti pembaruan prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG. Langkah tersebut penting agar potensi bahaya dapat dikenali lebih awal dan keputusan evakuasi dapat dilakukan apabila diperlukan.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi menegaskan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga TNI, Polri, serta masyarakat.
Menurutnya, koordinasi dan respons cepat diperlukan agar sumber daya dapat dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Permasalahan bencana ini enggak bisa BNPB sendiri. Semua, ibaratnya kalau saya bilang itu, rope analogy, jadi kayak analogi tali tambang,” kata Kristomei.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, pemerintah daerah didorong memeriksa saluran drainase, menyiapkan jalur evakuasi, memastikan tempat pengungsian dapat digunakan, serta memetakan lokasi rawan banjir dan longsor. Masyarakat juga diimbau tidak membuang sampah ke sungai, memperhatikan kenaikan debit air, dan segera menjauh apabila menemukan retakan tanah atau tanda pergerakan lereng.