Sekolah Kembali Dibuka Pascabanjir Aceh, Masyarakat Minta Isu Separatis Tak Ganggu Proses Pemulihan
Jakarta – Aktivitas pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mulai kembali berjalan setelah sempat terhenti hampir dua bulan akibat banjir bandang dan tanah longso.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti mengatakan negara berkomitmen untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan meski di wilayah terdampak bencana.
“Pendidikan tidak boleh terhenti akibat bencana,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
Pihaknya juga menekankan bahwa keselamatan semua unsur pendidikan harus jadi prioritas utama.
“Namun, keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil,” ujar Mu’ti.
Ia menegaskan bahwa musibah bukanlah hukuman, melainkan pelajaran untuk membentuk pribadi yang kuat, tabah, dan mampu bangkit menghadapi masa depan.
“Meski kehilangan harta benda bahkan pakaian, kita tidak boleh kehilangan cita-cita, optimisme, dan semangat belajar. Keterbatasan tidak boleh menghentikan langkah kita,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para siswa, guru, pemerintah daerah, dan masyarakat yang tetap bergotong royong agar proses belajar mengajar dapat berlangsung.
“Semangat belajar dan dedikasi bersama mampu melampaui berbagai keterbatasan, termasuk keterbatasan sarana dan prasarana sekolah. Dengan kerja sama dan kepedulian semua pihak, kegiatan pendidikan tetap dapat berjalan dengan baik demi mencetak generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan berprestasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan kegiatan belajar mengajar sudah dilakukan, termasuk di SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
“Meskipun aktivitas pembelajaran telah dimulai, kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih. Sejumlah fasilitas pendidikan masih terdampak banjir, seperti meja dan kursi yang rusak, serta ruang kelas yang belum sepenuhnya bersih,” jelasnya.
“Untuk sementara kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan sarana seadanya, termasuk penggunaan terpal sebagai alas belajar. Selain itu belum seluruh peserta didik dapat hadir, karena sebagian masih mengungsi di luar daerah,” tambah Abdul Muhari.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara paralel terus melakukan berbagai upaya percepatan pemulihan, meliputi pembersihan sisa material banjir dan longsor, perbaikan fasilitas pendidikan, serta pemenuhan sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar.***