Banjir Aceh Utara Masuki Fase Transisi, Pemerintah Fokus Fase Pemulihan Tolak Eksistensi Kelompok Separatis
Oleh : Ricky Rinaldi
Penanganan banjir di Aceh Utara memasuki fase transisi setelah kondisi kedaruratan berangsur terkendali. Pemerintah kini mengalihkan fokus dari respons darurat menuju fase pemulihan yang menitikberatkan pada pemulihan kehidupan masyarakat, perbaikan infrastruktur dasar, serta penguatan stabilitas sosial. Dalam fase ini, pemerintah menegaskan bahwa proses pemulihan harus berlangsung kondusif dan terbebas dari upaya-upaya yang dapat mengganggu persatuan, termasuk penolakan terhadap eksistensi kelompok separatis yang berpotensi memanfaatkan situasi pascabencana.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa fase transisi pascabanjir merupakan momen krusial yang menentukan keberlanjutan pemulihan masyarakat. Menurut Presiden, negara harus hadir secara konsisten untuk memastikan warga dapat kembali menjalani aktivitas sosial dan ekonomi secara bertahap. Presiden memandang bahwa pemulihan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup pemulihan rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Presiden menilai bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan proses pemulihan berjalan dalam suasana yang tertib dan stabil. Dalam pandangannya, bencana tidak boleh dijadikan celah bagi pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan narasi atau simbol yang bertentangan dengan prinsip persatuan nasional. Oleh karena itu, Presiden menegaskan bahwa negara bersikap tegas dalam menolak segala bentuk eksistensi kelompok separatis yang berpotensi mengganggu ketenangan masyarakat di wilayah terdampak.
Presiden Prabowo juga menekankan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus bergerak dalam satu irama kebijakan. Sinergi tersebut diperlukan agar program pemulihan, mulai dari perbaikan rumah warga, pemulihan akses jalan, hingga pemulihan layanan publik, dapat berjalan efektif dan tepat sasaran. Presiden menilai bahwa kolaborasi ini akan mempercepat proses normalisasi kehidupan masyarakat Aceh Utara pascabanjir.
Dalam konteks sosial, Presiden memandang bahwa masyarakat Aceh Utara memiliki ketahanan dan kedewasaan dalam menyikapi situasi pascabencana. Pemerintah, menurutnya, berkomitmen untuk menjaga agar ruang publik tetap bersih dari provokasi yang dapat memecah belah. Fokus utama negara adalah memastikan warga mendapatkan haknya atas pemulihan, perlindungan, dan rasa aman, tanpa intervensi kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan nasional.
Presiden juga menegaskan bahwa keberhasilan fase transisi akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan jangka menengah di wilayah terdampak. Pemerintah tidak ingin pemulihan berhenti pada pemulihan sementara, tetapi berlanjut pada penguatan ketahanan wilayah terhadap bencana di masa mendatang. Dengan pendekatan tersebut, Presiden berharap masyarakat Aceh Utara dapat bangkit dengan kondisi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi risiko serupa.
Selain itu, Presiden mendorong arah kebijakan dengan menekankanbahwa pemulihan pascabanjir harus menjadi momentum memperkuat persatuan. Negara hadir untuk seluruh warga, dan setiap bentuk ancaman terhadap keutuhan bangsa akan dihadapi secara tegas dan terukur demi menjaga stabilitas nasional.
Setelah arah kebijakan ditegaskan oleh Presiden, pelaksanaan teknis di lapangan menjadi penentu utama keberhasilan fase transisi menuju pemulihan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa Aceh Utara saat ini telah memasuki fase transisi menuju pemulihan setelah kebutuhan darurat utama terpenuhi. BNPB bersama pemerintah daerah mulai memfokuskan penanganan pada pemulihan fasilitas umum, perbaikan rumah warga terdampak, serta pemulihan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.
Abdul Muhari menyampaikan bahwa pemerintah tetap mempertahankan kehadiran di lapangan selama fase transisi untuk mencegah munculnya gangguan sosial. Menurutnya, distribusi bantuan dan program pemulihan yang berjalan lancar akan memperkecil ruang bagi provokasi yang dapat mengganggu ketertiban. BNPB menilai bahwa stabilitas sosial merupakan prasyarat utama agar pemulihan dapat berjalan optimal.
Ia menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan terus diperkuat. Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa fase pemulihan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penciptaan lingkungan yang aman dan kondusif. Pemerintah, menurutnya, berkomitmen untuk menjaga agar tidak ada ruang bagi kelompok separatis untuk memanfaatkan situasi pascabencana.
Abdul Muhari juga menyoroti peran aktif masyarakat dalam menjaga kondusivitas wilayah. Warga Aceh Utara dinilai menunjukkan sikap kooperatif dan mendukung upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah. Sikap masyarakat yang menolak keberadaan kelompok separatis dipandang sebagai refleksi keinginan warga untuk hidup tenang dan fokus pada pemulihan kesejahteraan.
Dalam pelaksanaan fase transisi, BNPB terus melakukan pemantauan dan evaluasi berkala. Setiap kendala yang muncul di lapangan segera dikoordinasikan dengan pemerintah daerah untuk mendapatkan solusi cepat. Pendekatan adaptif ini dinilai penting agar proses pemulihan tidak mengalami hambatan yang berkepanjangan.
Secara keseluruhan, masuknya penanganan banjir Aceh Utara ke fase transisi menunjukkan kesiapan pemerintah dalam mengelola pemulihan secara terstruktur dan berkelanjutan. Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan persatuan, serta dukungan teknis dari BNPB, menjadi fondasi penting dalam memastikan pemulihan berjalan kondusif. Dengan fokus pada pemulihan dan penolakan terhadap eksistensi kelompok separatis, pemerintah optimistis Aceh Utara dapat segera bangkit dan melanjutkan pembangunan secara stabil dan inklusif.
*)Pengamat Isu Strategis