Politik

Pemerintah Nyatakan Hormat terhadap Supremasi Sipil dalamTuntutan 17+8

Oleh: Alfian Wahyudi )* Gelombang aspirasi yang dikenal dengan sebutan 17+8 Tuntutan Rakyat telahmenggema sejak akhir Agustus 2025 dan terus menjadi perbincangan publik. Tuntutanmahasiswa dan masyarakat dipahami pemerintah sebagai dorongan untuk memperkuatdemokrasi dan memastikan prinsip supremasi sipil dijalankan secara konsisten dalamkehidupan bernegara. Bagi pemerintah, suara itu bukan sekadar ekspresi kekecewaan, melainkan amanat rakyat yang wajib dihormati dan dijalankan dengan serius. Aliansi mahasiswa yang terdiri dari BEM SI Kerakyatan, kelompok Cipayung Plus, sertasejumlah organisasi kampus lainnya, telah menyampaikan aspirasi mereka secaralangsung kepada jajaran eksekutif di Istana Kepresidenan. Ketua BEM UPNVJ, Kaleb Otniel Aritonang, menekankan pentingnya supremasi sipil, sejalan dengan komitmenpemerintah untuk menjaga peran militer tetap pada fungsi pertahanan. Pesan yang disampaikan mahasiswa ejalan dengan semangat reformasi yang terusdijaga, dengan memastikan militer fokus pada fungsi pertahanan dan lembaga sipilmenjadi pengendali utama demokrasi. Pemerintah merespons hal itu denganketerbukaan, memberikan sinyal bahwa tuntutan masyarakat tidak diabaikan. Langkah ini menjadi cerminan bahwa demokrasi di Indonesia masih berjalan dengan ruangdialog yang sehat antara pemerintah dan rakyat....

Hilirisasi Komoditas Perkebunan Dorong Peningkatan Nilai Ekspor dan Devisa Negara

Hilirisasi komoditas perkebunan menjadi agenda strategis nasional yang semakinmendapat perhatian serius pemerintah. Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah, BUMN, hingga swastaberkomitmen menjadikan sektor perkebunan tidak hanya sebagai penghasil produkmentah, melainkan juga sebagai pusat pengolahan bernilai tambah tinggi. Langkah inisejalan dengan upaya mendorong peningkatan devisa negara, menciptakan lapangankerja baru, memperkuat ketahanan pangan, serta menjadikan Indonesia pemain utamadalam perdagangan global berbasis produk turunan perkebunan. Dalam Rapat Koordinasi Hilirisasi Perkebunan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Dengan anggaranbiaya tambahan hampir Rp10 triliun, Kementan menargetkan peremajaan perkebunandi lahan seluas 800.000 hektare. Program ini mencakup komoditas strategis sepertikelapa sawit, tebu, kopi, kakao, karet, jambu mete, pala, dan lada. Melalui hilirisasi, pemerintah ingin memastikan produk perkebunan tidak lagi hanya diekspor dalambentuk mentah, tetapi diproses menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Data tahun 2024 menunjukkan kontribusi ekspor perkebunan mencapai Rp279,4 triliun, atau 92,26 persen dari total ekspor pertanian sebesar Rp302,8 triliun. Angka inimenegaskan betapa vitalnya peran sektor perkebunan bagi perekonomian nasional. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya optimal karena sebagian besar masihdiekspor dalam bentuk bahan mentah. Sebagai ilustrasi, kakao yang diekspor sehargaRp26.000 per kilogram dapat berubah menjadi cokelat bernilai hingga Rp1 juta setelahdiolah di negara lain. Hilirisasi hadir sebagai jawaban untuk mengurangi ketergantunganekspor bahan mentah dan memaksimalkan keuntungan di dalam negeri. Menteri...