Kesabaran Masyarakat Amungme di Ujung Tanduk, Ancam Balas Keluarga Egianus Kogoya
TIMIKA – Kesabaran masyarakat Amungme terhadap kasus penyanderaan sembilan perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, semakin menipis. Lebih dari satu bulan berlalu tanpa kepastian mengenai keberadaan para korban, sementara satu perempuan bernama Yosina Senawatme telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Situasi tersebut memicu kemarahan keluarga dan masyarakat Amungme terutama kepada Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya selaku pelaku penyanderaan. Mereka menilai persoalan ini tidak bisa terus dibiarkan tanpa kejelasan, terlebih setelah muncul dugaan bahwa para perempuan tersebut berada dalam situasi pemaksaan.
Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA), Sem Bukaleng, mengatakan kematian Yosina merupakan pukulan keras bagi masyarakat Amungme sekaligus tamparan terhadap rasa kemanusiaan.
“Kematian Yosina Senawatme menjadi tamparan keras bagi nurani kita semua. Seorang perempuan Amungme yang seharusnya bisa hidup, bekerja, berkumpul bersama keluarga, justru berakhir dalam kondisi mengenaskan setelah berada dalam situasi penyanderaan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah,” kata Sem.
Menurut Sem, masyarakat Amungme sejak awal telah meminta agar sembilan perempuan tersebut dibebaskan. Namun, permintaan itu hingga kini belum mendapatkan kepastian yang dapat menenangkan keluarga.
“Saya menegaskan bahwa kesabaran masyarakat Amungme tidak boleh terus-menerus dianggap remeh. Kami masyarakat Amungme sejak ultimatum awal sudah meminta agar sembilan perempuan asal suku kami dibebaskan. Sekarang sudah lebih dari satu bulan, tetapi tidak ada kejelasan di mana anak-anak kami berada,” ujarnya.
Sem bahkan menilai persoalan tersebut telah menguji batas kesabaran masyarakat Amungme. Ia memperingatkan bahwa ketidakjelasan berkepanjangan dapat memperbesar ketegangan antara masyarakat dan pihak yang diduga bertanggung jawab.
“Dengan kata lain, Kodap III Ndugama dan Egianus Kogoya telah menguji kesabaran kami!” tegasnya.
Perwakilan keluarga korban yang menggunakan nama samaran Jilame juga menyampaikan tuntutan keras. Keluarga meminta seluruh perempuan yang belum kembali segera diserahkan kepada keluarga, dalam kondisi apa pun.
“Kami dari keluarga korban menyatakan sembilan perempuan itu harus dikembalikan. Hidup maupun meninggal, harus dikembalikan kepada keluarga,” kata Jilame.
Ia membantah anggapan bahwa para perempuan tersebut pergi secara sukarela.
“Kalau disebut mereka ikut secara sukarela, itu tidak benar. Mereka benar-benar dipaksa,” ujarnya.
Jilame menyebut dari dua perempuan yang telah keluar dari lokasi, satu ditemukan meninggal dunia, sedangkan satu lainnya masih hidup.
“Yang keluar itu dua. Satu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu lainnya masih hidup,” katanya.
Keluarga menegaskan bahwa kasus Jila tidak boleh berakhir sebagai sekadar catatan konflik. Mereka meminta keberadaan seluruh korban ditelusuri dan kepastian diberikan kepada keluarga, sebelum kemarahan yang semakin membesar berubah menjadi persoalan baru di tengah masyarakat.