Kilang Balikpapan Siap Penuhi Kebutuhan BBM, Perkuat Swasembada Energi Tanpa Impor
Oleh: Alexandro Dimitri*)
Peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan oleh Presiden RIPrabowo Subianto menandai babak baru dalam sejarah energi nasional. Proyek strategis nasional senilai sekitar US$ 7,4 miliar (sekitar Rp123 triliun) ini bukan hanya sekadar modernisasi infrastruktur; ini adalah langkah nyata menuju ketahanan energi dan kemandirian BBM tanpa tergantung impor yang selama puluhan tahun menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Dengan peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang signifikan, dari sekitar 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari, kilang ini kini tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia dan mampu menyumbang sekitar seperempat dari total kebutuhan nasional.
Dari sisi teknis, modernisasi ini memungkinkan kilang menghasilkan produk BBM berkualitas tinggi setara standar Euro V, lebih ramah lingkungan dengan kandungan sulfur yang lebih rendah. Peningkatan kompleksitas pengolahan dan efisiensi produksi juga diproyeksikan mampu memotong impor bahan bakar seperti bensin dan solar hingga jutaan kiloliter per tahun, sekaligus meningkatkan produksi LPG dan produk petrokimia. Ini berarti lebih banyak pasokan BBM tersedia dari dalam negeri dan penghematan devisa negara mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah dalam posisi kuat untuk menghentikan impor solar di 2026 karena produksi domestik kini surplus berkat kilang Balikpapan yang telah beroperasi penuh. Menurut Bahlil, dengan tambahan produksi sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, Indonesia akan mengurangi kebutuhan impor bensin dan solar secara drastis serta bisa fokus pada produksi dalam negeri yang stabil dan berkelanjutan. Selain itu, pemerintah juga menargetkan penghentian impor avtur mulai 2027, dengan hanya mengimpor minyak mentah (crude oil) untuk diolah dalam negeri, langkah yang menurutnya mencerminkan kedewasaan kebijakan energi nasional.
Bahlil menekankan bahwa kebijakan ini bukan sekadar soal angka produksi, tetapi juga soal kedaulatan energi dan tanggung jawab negara terhadap kebutuhan rakyat. Pemerintah tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan BBM internal, tetapi juga meningkatkan kualitas produk sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada pasar luar negeri untuk bahan bakar penting. Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat industri hilir energi nasional, serta mendukung program biodiesel seperti B40 dan E10 yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Ia juga menyampaikan bahwa pengoperasian Kilang Balikpapan secara optimal akan memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar, sementara untuk avtur pemerintah menargetkan penghentian impor mulai 2027. Ia menilai kondisi tersebut menjadi momentum penting bagi penguatan kemandirian energi nasional, sekaligus menunjukkan meningkatnya daya saing produksi energi dalam negeri di tengah dinamika pasar global yang terus berfluktuasi.
Pandangan politik juga condong mendukung langkah besar ini. Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menyatakan bahwa RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang memperkuat ketahanan energi nasional secara fundamental. Bambang menilai peningkatan kapasitas kilang mampu menekan ketergantungan impor BBM secara bertahap dan membuat pasokan energi lebih stabil untuk kebutuhan masyarakat maupun industri nasional. Langkah ini, menurutnya, memperkokoh struktur industri pengolahan migas di Tanah Air dan menjadi pondasi penting dalam memastikan kedaulatan energi jangka panjang.
Bambang juga mempertegas dukungannya terhadap modernisasi kilang sebagai bagian dari Astacita pemerintah, strategi besar untuk menjadikan Indonesia mandiri energi dan memperkokoh kemampuan memanfaatkan sumber daya dalam negeri untuk kesejahteraan rakyat. Pendekatan ini diapresiasi tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga geopolitik karena mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga dan pasokan global yang sering tidak terprediksi.
Presiden Prabowo Subianto sendiri menekankan bahwa ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri tidak sejalan dengan cita cita Indonesia yang ingin berdiri sebagai negara sejahtera dan mandiri. Ia berpandangan bahwa kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, mulai dari minyak hingga energi terbarukan seperti tenaga surya, harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi nasional yang lebih menyeluruh dalam membangun ketahanan di berbagai sektor, termasuk pangan, energi, dan infrastruktur.
Seiring dengan peresmian kilang Balikpapan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas produksi energi domestik. Tidak hanya berhenti pada kilang Balikpapan, pemerintah juga mendorong pengembangan fasilitas lainnya serta diversifikasi sumber energi untuk mengurangi beban impor dan meningkatkan daya saing nasional. Ini merupakan sinergi kebijakan yang berpadu antara kementerian, DPR, dan BUMN energi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan semua inisiatif ini, Indonesia semakin dekat dengan cita-cita swasembada BBM tanpa impor, sebuah prestasi strategis yang bukan hanya mengubah peta energi nasional, tetapi juga mendukung stabilitas ekonomi jangka panjang serta meningkatkan kemandirian bangsa. Indonesia kini tengah melangkah mantap menuju masa depan energi yang lebih mandiri, kuat, dan berkelanjutan.
*) Penulis merupakan Pengamat Ekonomi