Pemerintah Jamin Bantuan Terencana untuk Sektor Ekonomi dan Sosial Pascabanjir Sumatra

0

Oleh : Gavin Asadit )*

Pemerintah Republik Indonesia memastikan bahwa penanganan pascabanjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra dilakukan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan, khususnya untuk memulihkan sektor ekonomi dan sosial masyarakat terdampak. Bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak akhir 2025 hingga awal Januari 2026 tersebut telah menimbulkan dampak luas, baik terhadap keselamatan warga maupun terhadap stabilitas pembangunan daerah.

Berdasarkan data terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per awal Januari 2026, ribuan warga terdampak di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Curah hujan ekstrem dengan intensitas tinggi dan durasi panjang menyebabkan meluapnya sungai-sungai utama serta memicu longsor di kawasan rawan. Selain korban jiwa, kerusakan juga tercatat pada permukiman warga, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, lahan pertanian, serta infrastruktur transportasi yang menjadi penopang utama aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemulihan ekonomi masyarakat terdampak telah diarahkan agar dilakukan secara lintas sektor dengan melibatkan kementerian, pemerintah daerah, serta dunia usaha guna mempercepat pergerakan kembali ekonomi lokal. Pemerintah memandang bahwa pemulihan ekonomi yang cepat akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pascabencana.

Pemerintah juga memprioritaskan pemulihan infrastruktur sebagai fondasi utama kebangkitan ekonomi dan sosial. Pembangunan hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal telah dilakukan secara bertahap sambil menunggu pembangunan rumah permanen. Perbaikan jalan, jembatan, dan sarana transportasi lainnya dipercepat untuk membuka kembali akses logistik dan mobilitas warga. Dukungan anggaran serta pengawasan terhadap proses rekonstruksi turut diperkuat.

Pemerintah memandang bahwa dampak bencana tersebut tidak dapat ditangani secara parsial. Oleh sebab itu, kebijakan pemulihan diarahkan tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi jangka menengah dan panjang. Pendekatan pembangunan kembali yang berorientasi pada pengurangan risiko bencana juga menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak menimbulkan dampak yang sama di masa mendatang.

Dalam rangka menjaga stabilitas sosial masyarakat terdampak, bantuan sosial telah disalurkan secara bertahap melalui berbagai skema perlindungan sosial. Bantuan kebutuhan dasar, layanan logistik, serta dukungan psikososial dipastikan menjangkau kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Terkait hal tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa santunan bagi keluarga korban meninggal dunia, bantuan rumah layak huni, serta dukungan modal usaha bagi keluarga terdampak telah dipastikan masuk dalam program pemulihan sosial nasional yang terintegrasi.

Di sektor kesehatan, pemerintah menaruh perhatian serius mengingat rusaknya sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan dan meningkatnya risiko penyakit pascabanjir. Penguatan layanan kesehatan dilakukan dengan pengerahan tenaga medis tambahan serta pemulihan fasilitas yang terdampak. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa ratusan tenaga kesehatan telah disiapkan dan dikirimkan ke wilayah terdampak untuk memastikan layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan dan risiko wabah dapat ditekan.

Sementara itu, dampak ekonomi akibat banjir dinilai cukup signifikan. Aktivitas perdagangan terganggu, lahan pertanian rusak, dan banyak usaha mikro, kecil, dan menengah terpaksa menghentikan kegiatan sementara. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah. Oleh karena itu, pemulihan ekonomi daerah ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama pemerintah. Program pemulihan mata pencaharian masyarakat, dukungan bagi UMKM, serta pemulihan sektor pertanian dan perikanan telah dimasukkan dalam agenda pemulihan nasional.

Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal juga menyampaikan bahwa percepatan perbaikan infrastruktur dipandang penting karena akses jalan dan jembatan dinilai sebagai kunci pemulihan ekonomi serta distribusi bantuan ke wilayah terdampak. Sinergi antara pemerintah pusat dan DPR disebut terus dijaga untuk memastikan kelancaran program rehabilitasi.

Pemerintah menyadari bahwa proses pemulihan pascabanjir di Sumatra membutuhkan waktu, konsistensi kebijakan, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Oleh karena itu, upaya pemulihan tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik, tetapi juga diarahkan pada penguatan kapasitas sosial masyarakat, peningkatan ketahanan ekonomi lokal, serta edukasi kebencanaan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Pemerintah menilai bahwa pembangunan kembali wilayah terdampak harus dilakukan dengan prinsip berkelanjutan, memperhatikan tata ruang, daya dukung lingkungan, serta potensi ekonomi daerah agar masyarakat tidak kembali berada dalam kondisi rentan terhadap bencana serupa.

Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia usaha, serta masyarakat sipil terus diperkuat untuk memastikan seluruh program berjalan efektif dan tepat sasaran. Pemerintah menegaskan bahwa kehadiran negara dalam situasi pascabencana bukan sekadar respons sementara, melainkan bentuk tanggung jawab konstitusional untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Dengan komitmen tersebut, pemerintah optimistis pemulihan sektor ekonomi dan sosial di wilayah terdampak banjir Sumatra dapat berjalan secara bertahap, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan produktif.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *