Pemerintah Siapkan CNG 3Kg sebagai Energi Murah bagi UMKM
Jakarta Pemerintah terus mendorong pengembangan energi alternatif yang dapat mendukung kebutuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), salah satunya melalui pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). Pengembangan CNG dinilai dapat menjadi pilihan energi bagi UMKM dan sektor komersial, terutama pelaku usaha yang belum terjangkau jaringan gas pipa.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya PGN Gagas telah mengembangkan layanan CNG selama lebih dari satu dekade. Pemanfaatannya mencakup sektor industri, komersial, UMKM hingga transportasi. Pada 2025, PGN Gagas menyalurkan sekitar 4.656.449 MMBTU gas bumi melalui layanan CNG dan LNG.
Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan menjelaskan bahwa pengembangan CNG masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, khususnya keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) sebagai fasilitas pengisian dan penerima CNG dari hulu.
Itulah yang menyebabkan CNG bisa belum bisa merata ke seluruh wilayah Indonesia. Terbatas Jawa, Sumatra, Kalimantan, sama Bali lah. Makanya kalau memang CNG komitmen berniat ya, kalau bisa di beberapa wilayah harus ada SPBG-SPBG yang untuk bisa menciptakan CNG, tegas Santiaji.
Penguatan infrastruktur tersebut menjadi penting apabila CNG ingin dikembangkan sebagai sumber energi yang lebih mudah diakses masyarakat dan pelaku UMKM. Saat ini PGN Gagas telah mengoperasikan 14 SPBG di tujuh provinsi dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan Gasku. Sementara layanan Gaslink telah melayani lebih dari 600 pelanggan sektor industri, komersial, dan UMKM.
PGN juga memperkenalkan CNG Cylinder atau Gaslink melalui Suadesa Festival 2026 di Sleman, Yogyakarta. Solusi tersebut ditawarkan kepada pelaku UMKM dan sektor hotel, restoran, serta kafe (Horeka) yang belum memperoleh akses jaringan gas pipa.
Division Head Corporate Social Responsibility PT Perusahaan Gas Negara Tbk Krisdyan Widagdo Adhi mengatakan pengembangan energi CNG dapat berjalan bersamaan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kegiatan berbasis UMKM.
Suadesa Festival 2026 merupakan festival berbasis masyarakat yang mendorong kemandirian dan penguatan ekonomi masyarakat serta UMKM lokal melalui pengembangan potensi kuliner, ekonomi kreatif, dan desa wisata. ujar Krisdyan.
Menurut Krisdyan, kawasan kuliner dan UMKM dapat menjadi pasar potensial bagi pemanfaatan CNG. Pelaku usaha membutuhkan pasokan energi yang konsisten untuk mendukung kegiatan produksi, sehingga alternatif energi yang praktis dapat membantu menjaga keberlangsungan operasional.
Dari sisi bisnis, kami melihat Suadesa Festival sebagai momentum untuk memperkenalkan solusi energi CNG kepada pelaku usaha yang memiliki kebutuhan energi, khususnya UMKM dan sektor Horeka, kata Krisdyan.
[w.R]