Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya, Umumkan Swasembada Pangan dan Ketahanan Beras Terjaga
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya nasional di Karawang, Jawa Barat, Rabu, 7 Januari 2026, yang menjadi momentum penting penguatan sektor pertanian nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden secara resmi mengumumkan keberhasilan Indonesia kembali mencapai swasembada pangan setelah melalui berbagai tantangan global dan domestik.
“Bahwa Indonesia berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada pangan,” kata Prabowo di hadapan para petani dan pemangku kepentingan pertanian.
Menurut Presiden, capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh elemen bangsa, mulai dari petani, pemerintah pusat dan daerah, hingga dukungan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan menjadi bukti nyata Indonesia sebagai bangsa yang kuat, mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Hal ini membuat Pemerintah tidak akan membuka keran impor beras pada tahun 2026. Kepastian tersebut didasarkan pada kondisi stok beras nasional yang sangat kuat di awal tahun, yakni mencapai 12,529 juta ton.
Angka ini meningkat hingga 203 persen dibandingkan stok awal 2024 dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan pangan nasional. Capaian tersebut sekaligus menegaskan langkah Indonesia yang semakin kokoh menuju ketahanan pangan berkelanjutan.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai ketersediaan beras tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan kebutuhan konsumsi beras nasional sekitar 2,591 juta ton per bulan, stok yang tersedia mampu mencukupi kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan. Kondisi ini memberikan ruang yang aman bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan tanpa ketergantungan pada impor.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa berdasarkan kondisi stok tersebut, Forum Neraca Komoditas Tahun 2026 secara mufakat memutuskan untuk menyetop impor beras. Forum yang digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan itu sepakat tidak menetapkan kuota impor, baik untuk beras umum maupun beras industri pada 2026.
“Pemerintah memutuskan tidak perlu impor beras. Begitu juga gula konsumsi maupun jagung pakan pada 2026 karena stok dan produksi nasional dinilai kuat,” ujar Astawa.
Ia merinci, carry over stock dari 2025 ke 2026 mencapai 12,529 juta ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog sebesar 3,248 juta ton per 31 Desember 2025. Dengan kebutuhan konsumsi bulanan yang relatif stabil, stok tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Mei 2026.
Selain itu, Bapanas juga memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang 2026 mencapai 34,7 juta ton. Jika digabungkan dengan stok awal, total ketersediaan beras nasional hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai 16,194 juta ton.**