Tembak Pilot dan Bakar Pesawat di Yahukimo, TPNPB-OPM Ganggu Pembangunan dan Keamanan di Tanah Papua
Oleh: Yuluku Wasiangen (*
Peristiwa penembakan terhadap seorang pilot serta pembakaran pesawat perintis di Yahukimo kembali menjadi pengingat bahwa aksi kekerasan bersenjata masih menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat Papua. Di tengah berbagai upaya pembangunan yang terus digencarkan pemerintah untuk membuka keterisolasian wilayah pedalaman, tindakan tersebut justru memperlihatkan bagaimana kekerasan tidak hanya menyasar aparat, tetapi juga mengganggu pelayanan publik, transportasi, dan aktivitas masyarakat sipil.
Sebagai bagian dari Civitas Akademi kampus ternama di Papua, penulis memandang bahwa keamanan merupakan fondasi utama bagi keberhasilan pembangunan. Tanpa rasa aman, masyarakat akan kesulitan memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, maupun akses ekonomi yang layak. Karena itu, setiap aksi kekerasan yang merusak sarana transportasi dan mengancam keselamatan manusia harus dipandang sebagai tindakan yang merugikan masyarakat Papua sendiri.
Pesawat perintis memiliki peran yang sangat penting bagi wilayah pegunungan Papua. Di banyak distrik yang belum memiliki akses jalan darat memadai, pesawat menjadi satu-satunya sarana untuk mengangkut tenaga kesehatan, guru, logistik, hingga kebutuhan pokok masyarakat. Ketika sebuah pesawat dibakar dan awaknya menjadi korban kekerasan, yang paling merasakan dampaknya bukan hanya operator penerbangan, melainkan ribuan warga yang bergantung pada jalur udara tersebut.
Pernyataan Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto memberikan gambaran mengenai dampak luas dari berbagai aksi kekerasan yang selama ini terjadi. Menurutnya, TPNPB-OPM telah berulang kali melakukan aksi intimidasi, perampokan, pembakaran sekolah, gereja, fasilitas pelayanan masyarakat, hingga pembunuhan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa tindakan seperti itu merupakan musuh bersama yang harus dihentikan karena mengangkangi nilai adat, agama, dan ketuhanan.
Pernyataan tersebut patut menjadi bahan refleksi bersama. Papua dikenal sebagai tanah yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, penghormatan terhadap sesama, dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah adat. Oleh sebab itu, penggunaan kekerasan untuk menebarkan rasa takut tidak sejalan dengan jati diri masyarakat Papua yang menginginkan kehidupan damai.
Letjen Lucky Avianto juga mengajak seluruh anggota kelompok bersenjata untuk menghentikan aksi kejahatan kemanusiaan, meletakkan senjata, dan kembali bergabung bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ajakan tersebut merupakan bentuk pendekatan yang tidak semata-mata mengedepankan penegakan hukum, tetapi juga membuka ruang bagi penyelesaian konflik secara damai demi masa depan Papua yang lebih baik.
Hal yang tidak kalah penting disampaikan Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Tri Purwanto. Ia menjelaskan bahwa pesawat yang dibakar merupakan pesawat perintis milik PT AMA dengan registrasi PK-RCY yang sebelumnya melayani penerbangan dari Bandara Wamena menuju Lapangan Terbang Kampung Balinggama. Penerbangan tersebut bertujuan mendukung mobilitas masyarakat di wilayah pedalaman.
Fakta ini memperlihatkan bahwa sasaran aksi kekerasan bukan sekadar aset perusahaan, melainkan infrastruktur yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Ketika penerbangan terganggu, distribusi obat-obatan, bahan makanan, pelayanan pemerintahan, bahkan akses pendidikan ikut terdampak. Kerugian yang muncul jauh lebih besar dibanding kerusakan fisik pesawat itu sendiri.
Kolonel Tri Purwanto juga menyampaikan bahwa aparat TNI bersama unsur terkait terus melaksanakan patroli gabungan dan pemantauan situasi guna memastikan kondisi keamanan tetap terkendali serta mencegah terulangnya aksi serupa yang dapat mengancam keselamatan warga. Langkah tersebut menunjukkan komitmen negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan pelayanan publik di wilayah pedalaman Papua.
Di sisi lain, respons cepat dalam penanganan korban juga patut diapresiasi. Wakil Panglima Koops TNI Habema Brigadir Jenderal Riyanto menjelaskan bahwa operasi evakuasi segera dilaksanakan dengan melibatkan sepuluh personel yang didukung dua unit helikopter. Menurutnya, seluruh proses dilakukan secara cepat, aman, dan profesional mengingat medan di lokasi kejadian memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Kecepatan evakuasi tersebut mencerminkan pentingnya koordinasi lintas unsur dalam menghadapi situasi darurat. Keselamatan manusia harus selalu menjadi prioritas utama, terlepas dari kompleksitas kondisi geografis Papua. Upaya tersebut juga menjadi bukti bahwa negara hadir untuk melindungi setiap orang yang menjadi korban tindak kekerasan.
Papua saat ini sedang bergerak menuju masa depan yang lebih baik melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Seluruh program tersebut membutuhkan situasi yang kondusif agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata. Karena itu, segala bentuk aksi kekerasan yang menimbulkan ketakutan dan menghambat pembangunan hanya akan memperpanjang penderitaan masyarakat Papua sendiri.
Masyarakat Papua mendambakan kehidupan yang damai, aman, dan sejahtera. Tidak ada ruang bagi tindakan kekerasan yang merenggut nyawa, merusak fasilitas umum, serta menghambat pelayanan kepada masyarakat sipil. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan seluruh komponen bangsa bersatu mengutuk setiap aksi kekerasan yang meresahkan warga. Dengan menjaga persatuan, mendukung terciptanya keamanan, dan mengedepankan dialog serta kemanusiaan, Tanah Papua akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang, maju, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
(* Penulis merupakan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Cenderawasih