Ladang Ganja Milik OPM di Pegunungan Bintang, Generasi Muda Papua Jadi Taruhan
JAYAPURA — Papua kembali dihadapkan pada persoalan serius. Di tengah upaya pemerintah membangun sumber daya manusia dan melindungi anak-anak Papua dari narkotika, muncul penemuan budidaya tanaman ganja di wilayah Pegunungan Bintang yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata OPM Kodap XXV Bintang Timur.
Persoalan tersebut bukan sekadar pelanggaran hukum. Ladang ganja di tengah wilayah Papua menjadi ancaman nyata terhadap masa depan generasi muda yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan aman, sehat, dan bebas dari narkotika.
Ketua Komnas HAM Papua, Frits B. Ramandey, menyebut dugaan tersebut sebagai ironi besar. Sebab, di satu sisi kelompok bersenjata menggaungkan narasi perjuangan Papua, sementara di sisi lain aktivitas yang dituduhkan justru berpotensi menyeret masyarakat, khususnya generasi muda, ke dalam persoalan narkotika.
“Penemuan ladang ganja di Pegunungan Bintang merupakan sebuah ironi di tanah Papua. Apalagi kejadian tersebut dikaitkan dengan kelompok bersenjata OPM Kodap XXV Bintang Timur yang selama ini menggaungkan narasi perjuangan Papua,” kata Frits.
Frits menegaskan tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan generasi muda menjadi korban. Menurut dia, narkotika bukan hanya menghancurkan kesehatan, tetapi juga dapat memutus masa depan pendidikan, merusak relasi sosial, menurunkan produktivitas, hingga menghancurkan ketahanan keluarga.
“Perjuangan apa pun tidak boleh mengorbankan generasi muda. Ketika narkotika masuk ke dalam kehidupan masyarakat, dampaknya tidak berhenti pada persoalan hukum,” ujarnya.
Ia mengingatkan Papua tidak boleh mewariskan kekerasan dan narkotika kepada anak-anaknya. Pemerintah dan masyarakat, kata dia, harus memastikan anak-anak Papua mendapatkan sekolah, ruang bermain, serta lingkungan yang aman.
“Anak-anak Papua membutuhkan sekolah, bukan ladang ganja. Mereka membutuhkan ruang bermain, bukan lingkungan yang dipenuhi senjata,” tegasnya.
Sementara itu, Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan kuat dugaan tanaman ganja tersebut merupakan hasil budidaya OPM Kodap XXV Bintang Timur pimpinan Ananias Ati Mimin. Menurut Lucky, lokasi penanaman diduga sengaja berada di wilayah pelosok agar tidak mudah diketahui aparat penegak hukum.
“Sangat miris dan ironis melihat kondisi ini, mengingat saat mama-mama Papua berjuang menjaga anak mereka dari bahaya narkoba, malah justru OPM meracuni generasi Papua,” kata Lucky.
Dugaan budidaya ganja tersebut menjadi alarm keras bagi semua pihak. Upaya pemerintah memberantas narkotika dan menjaga keamanan Papua dinilai harus berjalan beriringan dengan penguatan pendidikan, perlindungan anak, serta pemberdayaan masyarakat.
Sebab, masa depan Papua tidak boleh ditentukan oleh senjata ataupun narkotika. Generasi muda Papua membutuhkan masa depan, bukan ladang ganja.